Teori dan Kehidupan Sehari-Hari
Studi formal mengenai teori sosiologi tidak dimulai dalam ruang kelas. Sadar atau tidak semua orang sebenarnya berteori. Orang yang paling erat hubungannya dengan kegiatan praktek sekalipun, seperti seorang pengacara yang membela perkara dan memperingatkan hakim agar tetap berpegang pada fakta, harus menginterpretasikan fakta sehingga relevan baginya, ini adalah proses berteori.
Berteori dengan memberikan interpretasi itu sangatlah penting, karena perlu untuk menjelaskan peristiwa. Betapapun suasana yang kita hadapi baik atau buruk, kita harus jelaskan kepada diri kita sendiri atau kepada orang lain, “mengapa demikian”. Caranya ialah dengan jalan menghubungkan situasi sekarang dengan pengalaman atau keputusan-keputusan yang sudah kita berikan di masa lampau, pengaruh-pengaruh sosial atau tekanan-tekanan dari orang lain, krisis-krisis yang umumnya dihadapi pada waktu itu, atau hambatan-hambatan yang tersedia dalam waktu itu. Orang tua berusaha menjelaskan mengapa anak-anaknya menanggung suatu akibat tertentu; mahasiswa berusaha menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa mereka tidak lulus walaupun mereka merasa bahwa tidak harus terjadi demikian; guru, polisi, para pemimpin politik menjelaskan kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain, mengapa dan apa yang mereka perbuat.
Merencanakan atau meramalkan masa depan menuntut kita untuk melihat apa yang ada di belakang fakta, dan itu berarti kita berteori. Tak seorangpun dapat meramalkan masa depan dengan 100% tepat. Yang kita perbuat adalah membuat dugaan-dugaan dan menyesuaikan perilaku kita sekarang ini dalam hubungannya dengan harapan-harapan. Orang muda yang memilih karier, orang tua yang menyesuaikan diri dengan perilaku anak-anaknya, penjual yang mengembangkan taktik-taktik penjualan, pemimpin politik yang berdebat mengenai dilema kebijakan luar negeri, semua ini menunjukkan kepada kita akan adanya kebutuhan untuk bisa melihat apa yang ada di balik fakta yang ada sekarang, dan kita berteori. Sejauh tindakan-tindakan sekarang ini dibimbing oleh gambaran mengenai masa yang akan datang, entah itu jangka panjang atau jangka pendek, samar-samar atau jelas, orang harus melihat apa yang ada di balik fakta, dan dia harus berteori.
Tidak terkandung dalam arti ini untuk mengatakan bahwa perilaku manusia itu hanyalah sekedar tindakan yang mengandung implikasi logis dalam perspektif teoritisnya. Kebanyakan dari kita bertindak dengan cara yang tidak konsisten dengan pemahaman teoritis kita sendiri. Contoh, salah seorang dalam suatu keluarga yang mengalami situasi konflik dapat sadar secara teoritis bahwa kerelaan untuk berkompromi dapat mengurangi perselisihan, tetapi dapat pula ia tidak rela secara emosional untuk bertindak demikian karena takut kehilangan muka. Walaupun demikian, sebagian besar tindakan manusia sekurang-kurangnya secara umum mencerminkan suatu perspektif teoretis.

Komentar
Posting Komentar